Madu adalah salah satu produk primadona HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) di Indonesia. Banyaknya manfaat madu bagi kesehatan, kecantikan dan lain-lain menyebabkan permintaan pasar terhadap madu alam dan madu budidaya cukup tinggi. 


Dalam situasi seperti ini, budidaya lebah madu Trigona sp menjadi salah satu pilihan. Lebah kecil yang tidak memiliki sengat ini tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga propolis yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. 

A.    Klasifikasi

Trigona sp adalah salah satu jenis lebah madu dari famili Meliponini. Adapun taksonomi lebah madu Trigona sp adalah sebagai berikut :
Kingdom     : Hymenoptera
Klas           : Apidae
Ordo          : Apinae
Famili         : Meliponini
Genus         : Trigona
Spesies       : Trigona clypearis Friese, 1908

Gambar 1. Koloni Trigona sp

B.    Ciri-ciri Morfologi

Lebah trigona berwarna hitam dan berukuran kecil, dengan panjang tubuh antara 3-4 mm, serta rentang sayap 8 mm. Lebah pekerja memiliki kepala besar dan rahang panjang. Sedang lebah ratu berukuran 3-4 kali ukuran lebah pekerja, perut besar mirip laron, berwarna kecoklatan dan mempunyai sayap pendek. Lebah ini tidak mempunyai sengat (stingless bee).
Dalam kehidupan dan perkembangannya lebah sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, meliputi suhu, kelembaban udara, curah hujan dan ketinggian tempat. Disamping itu ketersedian pakan sangat menentukan keberhasilan budidaya lebah trigona.

TEKNIK BUDIDAYA

A.    Pembuatan Stup

Stup lebah Trigona sp sebaiknya menggunakan kayu yang berserat halus. Hingga saat ini belum ada ukuran standard dari stup trigona. Di Nusa Tenggara Barat, stup yang digunakan masyarakat berukuran 20 x 15 X 17 cm. Stup lebah Trigona sp bisa digantung ataupun disusun pada rak dan diletakkan di tempat teduh/ tidak terkena matahari langsung.
Struktur stup lebah Trigona sp berbeda dengan stup lebah lainnya. Ruangan dalam stup lebah trigona tidak bersekat-sekat. Namun lebah Trigona sp menempatkan telur, madu, propolis dan beebread secara terpisah.
Gambar 2. Kondisi dalam stup

B.    Pemindahan Koloni

Pemindahan koloni dari alam ke dalam stup atau dari satu stup ke stup lainnya merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan dan dilakukan secara hati-hati pada malam hari setelah semua koloni kembali ke sarang atau dinihari ketika koloni belum mencari pakan.
Secara teknik, pemindahan koloni lebih mudah dengan cara memindahkan ratunya terlebih dahulu, ketika ratunya sudah dipindahkan secara otomatis angota koloni akan mengikuti ratu berpindah tempat. Setelah semua koloni berpindah, stup yang baru didiamkan 1-2 bulan agar koloni dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru.


Gambar 3 : Beragam bentuk stup Trigona sp
Setiap koloni terdiri dari ratu, lebah pekerja dan lebah jantan. Lebah ratu merupakan satu-satunya lebah petelur seumur hidup dalam satu koloni. Lebah pekerja adalah lebah betina yang organ reproduksinya tidak berfungsi sempurna/ tidak subur. Lebah pekerja mengeluarkan lilin yang digunakan untuk membangun, membersihkan dan memelihara sarang, menjaga sarang, menyediakan makanan, terdiri dari madu dan tepung sari.

Masa kerja lebah pekerja selama 60 hari, sejak usia 1 minggu lebah pekerja mulai bekerja membersihkan lubang sel bekas huniannya tatkala ia masih menjadi larva. Usia 2 minggu lebah pekerja membuat royal jelly. Usia 3 minggu, membuat sel-sel dalam sarang. Usia 4 minggu mengikuti lebah pekerja dewasa mencari makan di luar sarang. Usia 5 minggu lebah pekerja mencari makan untuk memenuhi kebutuhan hidup koloni.

Stup tersusun atas beberapa bagian. Setiap bagian digunakan untuk menyimpan madu, tepung sari, tempat bertelur dan tempat larva. Di bagian tengah terdapat karangan-karangan bola berisi telur, tempayak, dan kepongpong. Di bagian sudut terdapat bola-bola agak kehitam-hitaman untuk menyimpan madu dan tepung.

C.    Pemeliharaan

Pemeliharaan stup sebaiknya dilakukan secara rutin dan periodik, meliputi pembersihan dari sarang semut/ laba-laba, pengecekan kondisi stup agar terkena air hujan.
Stup juga harus dihindarkan dari hama pengganggu (cecak, tokek, larva kumbang, tawon kuning, ayam dan lain-lain).

D.    Pemanenan

Pemanenan madu maupun propolis dilakukan 1-3 kali setahun tergantung kondisi lingkungan, pakan, besar kecilnya stup dan kesehatan koloni. Pemanenan umumnya dilakukan dengan cara tradisional, yaitu menggunakan pisau kikis.
Madu dan propolis yang sudah dipanen diletakan dimangkuk untuk dilakukan penirisan. Penirisan madu dilakukan agar madu tetap steril dengan tidak terlalu banyak kontak dengan tangan.

PENGELOLAN PASCA PANEN

A.    Penurunan Kadar Air

Kualitas madu sangat dipengaruhi oleh kadar air di dalamnya. Semakin rendah kadar air dalam madu semakin tinggi kualitas madu yang bersangkutan.
Untuk menurunkan kadar air menggunakan alat dehumi difier.
Kadar air ideal dalam madu berkisar antara 19-22 %.

Pengemasan

Pengemasan madu biasanya mengunakan botol kaca atau botol plastik. Kemasan sebaiknya diberikan informasi yang memadai berkaitan petunjuk penggunaan madu, kode produksi, tanggal kadaluarsa, ijin Industri Rumah Tangga dan lain-lain.
Gambar 4. Contoh kemasan madu

Budidaya lebah ada 2 (dua) cara yaitu : 1) Budidaya Lebah Secara Menetap, dan 2) Budidaya Lebah Secara Berpindah.
Pada budidaya lebah secara menetap koloni lebah diperoleh dari penangkapan koloni yg belum dibudidayakan, sedangkan pada budidaya lebah secara berpindah sampai saat ini koloni diperoleh dari lebah paket. Berikut akan diuraikan teknik budidaya lebah madu.


1.    Cara Mendapatkan Koloni Lebah

Teknik penangkapan koloni Apis Cerana.
Koloni Apis Cerana yang belum dibudidayakan sering dijumpai di atap rumah,lubang-lubang batang pohon dan sebagainya.
Suatu koloni dapat ditangkap langsung lalu dimasukan ke dalam kotak penangkap yang sudah diisi sisiran kosong dan larutan gula kental yang diletakan dekat koloni lebah yang telah ditangkap.
Mula-mula koloni lebah diasapi secukupnya sehingga lebah menjadi jinak atau tidak agresif. Irislah sisran sarang lalu ikatkan pada bingkai sarang perlahan-lahan ,kemudian cari ratunya. Masukan lebah ratu ke dalam sangkar ratu lalu tempelkan di tengah sisiran yang sudah disiapkan di dalam kotak lebah. Sisiran lebah yang dipindah adalah sisran muda yang berwarna putih dan penuh larva, madu dan tepungsari (pollen). Letakkan kotak lebah pada tempat yang agak terbuka supaya anggota koloninya yang lain dapat masuk kedalam kotak itu. Setelah semua lebah masuk, kotak ditutup. Sehari setelah penangkapan, kurungan ratu dibuka dan agar ratu tidak terbang maka sayap depan lebah ratu dipotong sedikit. Tiga hari setelah penangkapan, lebah sudah tenang dan akan aktif kembali mencari makan, mebuat sarang dan sebagainya.

2.    Teknik Pemeriksaan Koloni Lebah

Pemeriksaan koloni dimulai 3 hari setelah penangkapan atau pembibitan. Setelah koloni kelihatan berkembang biak, pemeriksaannya cukup sekali seminggu.
Langkah-langkah pemeriksaan koloni lebah adalah sebagai berikut :
a.    Persiapkan perlengkapan petugas.
b.    Pemeriksa dan pembantu pemeriksa berdiri di kiri kanan kotak agar tidak menutupi jalur terbang lebah , sehingga tidak disengat.
c.    Perlahan-lahan tutup luar dibuka sampai sedikit bergeronggang. Pada koloni sedikit dihemburkan asap dengan 2 – 3 kali pengasapan.
d.    Tutup dalamnya dibuka dan diasapi kembali dengan sekali hembusan. Jika pada tutup terdapat segerombolan lebah, tutup dalam goyangkan diatas kotak lebah, sehingga lebah jatuh pada kotaknya.
e.    Bingkai diangkat dari tepi secara perlahan-lahan, jika sukar dapat digunakan pengungkit.
f.    Angkatlah bingkai dan periksa satu persatu, pemeriksaan harus selalu diatas peti lebah, sehingga apabila ratu lebah jatuh akan tepat pada koloni yang sedang diperiksa.
g.    Periksalah secara cepat dan cermat keadaan ratu, larva, telur dan madu serta tepung sarinya
h.    Catat hasil pemeriksaannya.
i.    Bingkai-bingkai sisiran kembalikan pada posisi semula kemudian tutuplah kotak seperti keadaan semula.

3.    Pengaturan Sisiran Sarang

Pengaturan sisiran sarang lebah lazim disebut dengan teknik manipulasi. Hal ini merupakan suatu usaha untuk meningkatkan daya kerja koloni lebah dalam membangun sarangnya.
Pengaturan sisiran sarang sebenarnya hanya dapat dilakukan pada bingkai yang berpondasi sarang atau sisiran sarang dengan lidah bimbingan. Pengaturan sisiran sarang dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu pengaturan sisiran dalam satu kotak dan pengaturan sisiran antar kotak.

3.1.    Pengaturan Sisiran Sarang dalam Kotak.
Jika dalam satu koloni lebah baru setengah dari seluruh sisran yang terbentuk, maka untuk mempercepat perkembangan koloninya sisran tersebut harus dipindah-pindahkan, urutannya sebagai berikut : misalnya sisran pertama dan keempat berisi madu dan tepungsari sedangkan sisran kedua dan ketiga berisi  telur dan larva, sisran kelima kosong, maka sisiran kelima harus dipindahkan ke antara sisiran kedua dan ketiga, menggantikan posisi sisiran ketiga.
Tiga hari setelah diatur kembali diperiksa sisiran kelima. Diharapkan lebahnya sudah membangun sarangnya di sisiran tersebut. Hal ini biasa dilakukan pada musim membangun atau mempersiapkan koloni pada masa panen madu.

3.2.    Pengaturan Sisiran Sarang antar Kotak.
Pengaturan sisiran sarang antar kotak dilakukan untuk memperkuat koloni yang lemah. Caranya sebagai berikut :
Siapkan kotak koloni lebah yang lemah dan kotak koloni lebah yang kuat. Beberapa sisiran yang berisi madu, tepungsari, larva dan telur dipindahkan dari koloni yang kuat ke dalam koloni yang lemah tanpa meyertakan lebah. Letakkan sisiran yang berisi telur dan larva dibagian tengah diantara sisiran lainnya. Sisiran yang berisi tepungsari dan madu diletakan dibagian tepi. Kotak lebah diletakkan pada lokasi yang banyak bunga tanaman pakan lebah. Setelah 7 hari koloni itu diperiksa.

4.    Pemindahan Koloni Lebah

Pemindahan koloni atau penggembalaan baru diperlukan pada budidaya Apis mellifera, sebab lebah ini memerlukan bunga-bunga tertentu dalam jumlah yang besar sehingga koloninya perlu dipindah-pindahkan dari daerah satu jenis bunga ke daerah jenis bunga lainnya lainnya.
Pada waktu senja setelah semua lebah masuk ke dalam kotak tutuplah pintu masuknya. Bingkai sarang yang berisi madu diambil lalu diganti dengan fondasi sarang. Bingkai-bingkai tersebut harus dirapatkan agar tidak bergerak-gerak dalam perjalanan. Tutup dan dasar kotak juga dirapatkan dengan jalan dipaku. Apabila pengangkutannya dengan kendaraan, lobang kotak diatur berhadapan dan tidak menghadap ke arah perjalanan kendaraan. Usahakan agar perjalanan dilakukan pada malam hari. Apabila perjalanannya jauh perlu istirahat, perciki kotak dengan air. Setelah sampai di tempat areal penggembalaan baru, keesokan harinya pintu kotak dibuka secara bertahap. Pertama-tama 3 – 4 cm dahulu untuk memberi kesempatan kepada lebah pekerja berorientasi.

5.    Menyatukan Koloni Lebah

Tujuannya adalah untuk menyelamatkan serta mengembangkan koloni lebah yang lemah ataupun koloni yang tidak mempunya ratu, juga merupakan usaha mendapatkan koloni yang kuat menjelang panen madu.
Koloni yang kuat yaitu koloni yang mempunyai ratu produktif dengan minimum 5 sisiran penuh lebah. Kotak yang berisi koloni kuat dibuka tutup atasnya dan tutup dalamnya diganti dengan selembar kertas koran yang telah dilubangi. Arah lubang itu sejajar dengan ruang antara sisiran. Koloni lebah yang lemah atau tidak beratu setelah diangkat tutup dasarnya diletakan diatas kotak koloni tadi. Dalam waktu 12 jam diharapkan kedua koloni tersebut telah bersatu melalui rintisan koran tadi.
Untuk mempercepat oleskan larutan gula pada kertas koran tersebut. Penggabungan ini harus dikerjakan pada malam hari, sebab pada saat itu koloni sudah dalam keadaan tenang dan semua lebah sudah ada didalam kotak. Pindahkan kotak lebah gabungan tersebut ke daerah pakan lebah. Tujuh hari setelah penggabungan koloni harus diperiksa.

6.    Memperbanyak Koloni Lebah

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk memperbanyak koloni lebah adalah sebagai berikut :
a.    Koloni lebah lebah harus kuat, yaitu dalam satu kotak berisi minimum 8 sisiran penuh lebah. Ratunya dalam keadaan aktif bertelur, lebah pekerja giat mencari makan dan koloni bebas dari hama dan penyakit.
b.    Cukup tersedia bahan pakan lebah tersebut.
Apabila kedua hal tersebut terpenuhi maka koloni dapat diperbanyak.
Koloni yang akan diperbanyak dan kotak dengan sisiran fondasi sarang kosong disiapkan, ratunya dipindahkan ke koloni tersebut dengan 4 – 5 sisiran sarang. Kotak yang telah berisi ratu dipindahkan jauh. Untuk Apis cerana pemindahan sekurang – kurangnya 700 m, dan untuk Apis mellifera 2.000 m. Pemindahan ini bertujuan  agar lebah tidak kembali ke tempat asalnya. Lima hari setelah pemecahan, koloni diperiksa, apabila terdapat lebih dari 1 sel ratu, pilih sel ratu yang paling kuat dan yang lainnya dibuang.
Memperbanyak koloni ini bermaksud untuk pembibitan atau untuk mempersiapkan koloni menghadapi masa panen madu.

7.    Mempersiapkan Masa Panen

Kotak madu diisi sepuluh sisiran kosong (fondasi sarang). Letakkan kotak madu ini diatas kotak eram, diantara kedua kotak itu terlebih dulu dipasang penyekat ratu ( “queen excluder” ).
Sisiran kotak madu yang telah berisi madu  dan tertutup lilin siap dipanen. Madu yang belum ditutup lapisan lilin atau belum 7 hari sebaiknya jangan dipanen sebab masih terlalu banyak kadar airnya atau disebut “ madu muda “.

8.    Teknik Panen


Panen dilaksanakan pada pagi hari atau sore hari. Madu yang dapat dipanen dipilih dari sisiran yang penuh madu atau dua pertiganya berisi madu yang sudah tertutup lilin.
Bingkai dan sisiran dibersihkan lebahnya dengan menggunakan sikat lebah. Lapisan lilin dikupas dengan pisau pemanen madu yang sudah dicelup air panas. Kemudian sisiran dengan bingkainya dimasukan ke dalam ekstraktor. Bingkai sisiran yang sudah dipanen dikembalikan lagi ke kotak semula. Pemanenan dilakukan pada kotak secara berselang seling, yaitu kotak no. 1, 3, 5 dan seterusnya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari perampokan antar koloni.

9.    Penangkaran Lebah Ratu

Penangkaran ratu sebaiknya dilakukan pada saat banyak nektar dan tepung sari.
9.1.    Penangkaran Lebah Ratu Secara Alam.
Penangkaran ratu secara alam dapat dikerjakan dengan dua cara, yaitu:
a.    Memecah koloni menjadi dua seperti telah dikemukakan diatas.
b.    Memanfaatkan hijrah, dimana terbentuk beberapa sel calon ratu secara alami. Pindahkan sel calon ratu  yang terletak di bagian bawah sisiran sarang ke dalam koloni yang lain.
9.2.    Penangkaran Lebah Ratu Buatan.
Dipakai sel ratu buatan berupa mangkokan kecil yang dipasang pada bingkai sisiran. Mangkok-mangkok diisi larva lebah yang berumur 2 hari. Dua belas jam setelah menetas letakkan bingkai sisiran yang berisi mangkokan tadi  kedalam koloni yang kuat. Tiga belas hari setelah setelah dititipkan pada koloni, calon ratu dipindahkan lagikepada koloni lebah yang tidak mempunyai ratu. Diharapkan 5 hari setelah pemindahan terakhir akan diperoleh ratu di dalam koloni itu.
Untuk mangkok ratu dapat dibuat sendiri dengan cara membuat cetakan dari kayu yang sesuai dengan sel calon ratu.

Cara Budidaya Jahe dan Perawatannya

cara budidaya jahe

Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempah Indonesia, disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional maupun fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Sebagai komoditas ekspor dikemas berupa jahe segar, asinan (jahe putih besar), jahe kering (jahe putih besar, kecil dan jahe merah), maupun minyak atsiri dari jahe putih kecil (jahe emprit) dan jahe merah. Volume permintaannya terus meningkat seiring dengan permintaan produk jahe dunia serta makin berkembangnya industri makanan dan minuman di dalam negeri yang menggunakan bahan baku jahe. Pada tahun 1998, ekspor jahe Indonesia mencapai 32.807 ton dengan nilai nominal US $ 9.286.161. Tahun 2003 turun menjadi 7.470 ton dengan nilai US $ 3.930.317 karena mutu yang tidak memenuhi standar. Namun permintaan jahe mengalami peningkatan setiap tahun. Kondisi ini di Indonesia, direspon dengan makin berkembangnya areal penanaman dan munculnya berbagai produk jahe.
Pengembangan jahe skala luas sampai saat ini perlu didukung dengan upaya pembudidayaannya secara optimal dan berkesinambungan. Untuk mencapai tingkat keberhasilan budidaya yang optimal diperlukan bahan tanaman dengan jaminan produksi dan mutu yang baik serta stabil dengan cara menerapkan budidaya anjuran. Adanya penolakan ekspor jahe Indonesia di negara tujuan terutama Jepang, karena tingginya cemaran mikroorganisme, mengakibatkan anjloknya pendapatan petani jahe. Hal ini perlu segera diantisipasi dengan menerapkan budidaya anjuran terbaik diantaranya dengan penggunaan bahan tanaman sehat yang berasal dari varietas unggul. Selain itu, karena kualitas simplisia bahan baku industri hilir ditentukan oleh proses budidaya dan pascapanennya, maka pembakuan standar prosedur operasional (SPO) budidaya jahe dibuat guna mendukung GAP (Good Agricultural Practices).

PERSYARATAN TUMBUH

Untuk budidaya jahe diperlukan lahan di daerah yang sesuai untuk pertumbuhannya. Untuk pertumbuhan jahe yang optimal diperlukan persyaratan iklim dan lahan sebagai berikut : iklim tipe A, B dan C (Schmidt & ferguson), ketinggian tempat 300 - 900 m dpl., temperatur rata-rata tahunan 25 - 30ยบ C, jumlah bulan basah (> 100 mm/bl) 7 - 9 bulan per tahun, curah hujan per tahun 2 500 – 4 000 mm, intensitas cahaya matahari 70 - 100% atau agak ternaungi sampai terbuka, drainase tanah baik, tekstur tanah lempung sampai lempung liat berpasir, pH tanah 6,8 – 7,4. Pada lahan dengan pH rendah dapat diberikan kapur pertanian (kaptan) 1 - 3 ton/ha atau dolomit 0,5 - 2 ton/ha untuk meningkatkan pH tanah.
Pada lahan dengan kemiringan > 3% dianjurkan untuk dilakukan pembuatan teras, teras bangku sangat dianjurkan bila kemiringan lereng cukup curam. Hal ini untuk menghindari terjadinya pencucian lahan yang mengakibatkan tanah menjadi tidak subur, dan benih jahe hanyut terbawa arus. Persyaratan lahan lainnya yang juga penting bagi penamaman jahe adalah lahan bukan merupakan daerah endemik penyakit tular tanah (soil borne diseases) terutama bakteri layu dan nematoda. Untuk menjamin kesehatan lahan, sebaiknya lahan yang digunakan bukan bekas jahe, atau tidak ada serangan penyakit bakteri layu dilahan tersebut dan hanya dua kali berturut-turut ditanami jahe. Tahun berikutnya dianjurkan pindah tempat untuk menghindari kegagalan panen karena kendala penyakit dan adanya gejala allelopati.

BAHAN TANAMAN

Jahe (Zingiber officinale Rosc.; Ginger) adalah tanaman herba tahunan yang tergolong famili Zingiberaceae, dengan daun berpasangpasangan dua-dua berbentuk pedang, rimpang seperti tanduk, beraroma. Selama ini di Indonesia, berdasarkan pada bentuk, warna dan aroma rimpang serta komposisi kimianya dikenal 3 tipe jahe, yaitu jahe putih besar, jahe emprit dan jahe merah. Jahe putih besar (Z. officinale var. officinarum) mempunyai rimpang besar berbuku, berwarna putih kekuningan dengan diameter 8,47 – 8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6,20 – 11,30 dan 15,83 – 32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%. Jahe putih kecil (Z. officinale var. amarum) mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,38 – 11,10 dan 6,13 – 31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%.
Jahe merah (Z. officanale var. rubrum) mempunyai rimpang kecil berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai merah dengan diameter 4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang 5,26 – 10,40 dan 12,33 – 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58 – 3,90%. Balittro telah melepas varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dengan potensi produksi 17 - 37 ton/ha. Sedangkan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah rata-rata potensi produksinya masing-masing untuk jahe putih kecil adalah 16 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%. Sedangkan jahe merah potensi produksinya 22 ton/ha, kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.

PEMBENIHAN

Benih yang digunakan harus jelas asal usulnya, sehat dan tidak tercampur dengan varietas lain. Benih yang sehat harus berasal dari pertanaman yang sehat, tidak terserang penyakit. Beberapa penyakit penting pada tanaman jahe yang umum dijumpai, terutama jahe putih besar, adalah layu bakteri (Ralstonia solanacearum), layu fusarium (Fusarium oxysporum), layu rizoktonia (Rhizoctonia solani), nematoda (Rhodopolus similis) dan lalat rimpang (Mimergralla coeruleifrons, Eumerus figurans) serta kutu perisai (Aspidiella hartii). Rimpang yang telah terinfeksi penyakit tidak dapat digunakan sebagai benih karena akan menjadi sumber penularan penyakit di lapangan.
Pemilihan benih harus dilakukan sejak pertanaman masih di lapangan. Apabila terdapat tanaman yang terserang penyakit atau tercampur dengan jenis lain, maka tanaman yang terserang penyakit dan tanaman jenis lain harus dicabut dan dijauhkan dari areal pertanaman. Pemilihan (penyortiran) selanjutnya dilakukan setelah panen, yaitu di gudang penyimpanan. Pemeriksaan dilakukan untuk membuang benih yang terinfeksi hama dan penyakit atau membuang benih dari jenis lain. Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus sudah tua minimal berumur 10 bulan. Ciri-ciri rimpang tua antara lain kandungan serat tinggi dan kasar, kulit licin dan keras tidak mudah mengelupas, warna kulit mengkilat menampakkan tanda bernas.
Rimpang yang terpilih untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2 - 3 bakal mata tunas yang baik dengan bobot sekitar 25 - 60 g untuk jahe putih besar, 20 - 40 g untuk jahe putih kecil dan jahe merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe merah dan jahe emprit 1 – 1,5 ton, sedangkan jahe putih besar yang dipanen tua membutuhkan benih 2 - 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar yang dipanen muda. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan benih adalah rimpang pada ruas kedua dan ketiga.
Sebelum ditanam rimpang benih ditunaskan terlebih dahulu dengan cara menyemaikan yaitu, menghamparkan rimpang di atas jerami/alang-alang tipis, di tempat yang teduh atau di dalam gudang penyimpanan dan tidak ditumpuk. Untuk itu biasa digunakan wadah atau rak-rak terbuat dari bambu atau kayu sebagai alas. Selama penyemaian dilakukan penyiraman setiap hari sesuai kebutuhan, untuk menjaga kelembaban rimpang. Benih rimpang bertunas dengan tinggi tunas yang seragam 1 - 2 cm, siap ditanam di lapangan dan dapat beradaptasi langsung, juga tidak mudah rusak. Rimpang yang sudah bertunas tersebut kemudian diseleksi dan dipotong menurut ukuran. Untuk mencegah infeksi bakteri, dilakukan perendaman didalam larutan antibiotik dengan dosis anjuran. Kemudian dikering anginkan.

BUDIDAYA

Untuk mencapai hasil yang optimal didalam budidaya jahe putih besar, jahe putih kecil maupun jahe merah, selain menggunakan varietas unggul yang jelas asal usulnya perlu diperhatikan juga cara budidayanya.

Persiapan lahan

Sebelum tanam dilakukan pengolahan tanah. Tanah diolah sedemikian rupa agar gembur dan dibersihkan dari gulma. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara menggarpu dan mencangkul tanah sedalam 30 cm, dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar lapuk.
Untuk tanah dengan lapisan olah tipis, pengolahan tanahnya harus hati-hati disesuaikan dengan lapisan tanah tersebut dan jangan dicangkul atau digarpu terlalu dalam sehingga tercampur antara lapisan olah dengan lapisan tanah bawah, hal ini dapat mengakibatkan tanaman kurang subur tumbuhnya.
Setelah tanah diolah dan digemburkan, dibuat bedengan searah lereng (untuk tanah yang miring), sistim guludan atau dengan sistim pris (parit). Pada bedengan atau guludan kemudian dibuat lubang tanam.

Jarak tanam

Benih jahe ditanam sedalam 5 - 7 cm dengan tunas menghadap ke atas, jangan terbalik, karena dapat menghambat pertumbuhan. Jarak tanam yang digunakan untuk penanaman jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm.

Pemupukan

Pupuk kandang domba atau sapi yang sudah masak sebanyak 20 ton/ha, diberikan 2 - 4 minggu sebelum tanam. Sedangkan dosis pupuk buatan SP-36 300 - 400 kg/ha dan KCl 300 - 400 kg/ha, diberikan pada saat tanam.
Pupuk urea diberikan 3 kali pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam sebanyak 400 - 600 kg/ha, masing-masing 1/3 dosis setiap pemberian. Pada umur 4 bulan setelah tanam dapat pula diberikan pupuk kandang ke dua sebanyak 20 ton/ha.

Pemeliharaan

Pemeliharaan dilakukan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.

a. Penyiangan gulma

Sampai tanaman berumur 6 - 7 bulan banyak tumbuh gulma, sehingga penyiangan perlu dilakukan secara intensif secara bersih.
Penyiangan setelah umur 4 bulan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran yang dapat menyebabkan masuknya benih penyakit. Untuk mengurangi intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa tebal dari jerami atau sekam.

b. Penyulaman

Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1 – 1,5 bulan setelah tanam dengan memakai benih cadangan yang sudah diseleksi dan disemaikan.

c. Pembumbunan / pendangiran

Pembumbunan mulai dilakukan pada saat telah terbentuk rumpun dengan 4 - 5 anakan, agar rimpang selalu tertutup tanah.
Selain itu, dengan dilakukan pembumbunan, drainase akan selalu terpelihara.

d. Pengendalian organisme pengganggu tanaman

Pengendalian hama penyakit dilakukan sesuai dengan keperluan. Penyakit utama pada jahe adalah busuk rimpang yang disebabkan oleh serangan bakteri layu (Ralstonia solanacearum). Sampai saat ini belum ada metode pengendalian yang memadai, kecuali dengan menerapkan tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya benih penyakit, seperti penggunaan lahan sehat, penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari perlukaan (penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat (sanitasi), inspeksi kebun secara rutin.
Tanaman yang terserang layu bakteri segera dicabut dan dibakar untuk menghindari meluasnya serangan OPT. Hama yang cukup signifikan adalah lalat rimpang Mimergralla coeruleifrons (Diptera, Micropezidae) dan Eumerus figurans (Diptera, Syrpidae), kutu perisai (Aspidiella hartii) yang menyerang rimpang mulai dari pertanaman dan menyebabkan penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang disebabkan oleh cendawan (Phyllosticta sp.). Serangan penyakit ini apabila terjadi pada tanaman muda (sebelum 6 bulan) akan menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan.
Tindakan mencegah perluasan penyakit ini dengan menyemprotkan fungisida segera setelah terlihat ada serangan (diulang setiap minggu sekali), sanitasi tanaman sakit, inspeksi secara rutin.

POLA TANAM

Untuk meningkatkan produktivitas lahan, jahe dapat ditumpangsarikan dengan tanaman pangan seperti kacang-kacangan dan tanaman sayuran, sesuai dengan kondisi lahan.

PANEN

Panen untuk konsumsi dimulai pada umur 6 sampai 10 bulan.  tetapi, rimpang untuk benih dipanen pada umur 10 - 12 bulan.
Cara panen dilakukan dengan membongkar seluruh rimpangnya menggunakan garpu, cangkul, kemudian tanah yang menempel dibersihkan. Dengan menggunakan varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dihasilkan rata-rata 27 ton rimpang segar, calon varietas unggul jahe putih kecil (JPK 3; JPK 6) dengan cara budidaya yang direkomendasikan, dihasilkan rata-rata 16 ton/ha rimpang segar dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%.
Sedangkan jahe merah 22 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%. Mutu rimpang dari varietas unggul Cimanggu-1 dan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah, memenuhi standar Materia Medika Indonesia (MMI).
Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar dikatagorikan sebagai berikut:
Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang;
Mutu II : bobot 150 - 249 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang;
Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang maksimum 10%

PASCA PANEN

Tahapan pengolahan jahe meliputi penyortiran, pencucian, pengirisan, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan. Setelah panen, rimpang harus secepatnya dibersihkan untuk menghindari kotoran yang berlebihan serta mikroorganisme yang tidak diinginkan. Rimpang dibersihkan dengan disemprot air yang bertekanan tinggi, atau dicuci dengan tangan. Setelah pencucian, rimpang dianginanginkan untuk mengeringkan air pencucian. Untuk penjualan segar, jahe dapat langsung dikemas. Tetapi bila diinginkan dalam bentuk kering atau simplisia, maka perlu dilakukan pengirisan rimpang setebal 1 – 4 mm.
Untuk mendapatkan simplisia dengan tekstur menarik, sebelum diiris rimpang direbus beberapa menit sampai terjadi proses gelatinisasi Rimpang yang sudah diiris, selanjutnya dikeringkan dengan energi surya atau dengan pengering buatan/oven pada suhu 36 – 46° C. Bila kadar air telah mencapai sekitar 8 - 10%, yaitu bila rimpang bisa dipatahkan, pengeringan telah dianggap cukup. Selain itu, dikenal jahe kering gelondong (jahe putih kecil dan jahe merah) yang diproses dengan cara rimpang jahe utuh ditusuk-tusuk agar air keluar sebagian, kemudian dijemur dengan energi matahari atau dioven sampai kering atau kadar air mencapai 8 - 10%.
Rimpang kering dapat dikemas dalam peti, karung atau plastik yang kedap udara, dan dapat disimpan dengan aman, apabila kadar airnya rendah. Ruang penyimpan harus diperhatikan sanitasinya, berventilasi baik, dengan suhu ruangan yang rendah dan kering untuk mencegah pencemaran oleh mikroba dan hama gudang.

PENGANEKARAGAMAN PRODUK

Selain simplisia, dari rimpang jahe dapat diperoleh minyak atsiri, oleoresin, bubuk, jahe asinan, jahe dalam sirup, manisan jahe, jahe kristal dan anggur jahe. Asinan jahe merupakan bahan ekspor yang potensial, dibuat dari jahe putih besar yang dipanen muda (3 bulan), dengan kadar serat rendah.
Sedangkan permen jahe, manisan, sirup, instant, serbat dan sekoteng berasal dari jahe putih kecil yang dipanen tua. Selain untuk bahan baku obat tradisional (jamu), jahe sudah mulai digunakan untuk obat fitofarmaka karena kandungan gingerolnya. Bahan aktif ini diisolasi dari ekstrak jahe yang bermanfaat untuk mengatasi rasa nyeri pada tulang, otot dan sendi.

USAHA TANI

Untuk memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang menguntungkan, faktor-faktor produksi didalam budidaya perlu diperhitungkan. Berikut adalah analisis usahatani jahe dengan menggunakan calon varietas unggul dan budidaya anjuran Balittro.
Di Jamaica, "jahe" yang baru dipungut segera dilempar ke dalam bak-bak air, kemudian diobok-obok supaya bersih sendiri. Kalau anda pengusaha perkebunan hasilnya untuk eksport, umbi "jahe" tadi harus bersih pula dari kulit-kulit selaput luarnya.
Di Jamaica terkenal sebagai produsen "jahe" kering yang paling bagus, orang mengupas kulit selaput terluarnya dengan tangan setelah "jahe-jahe" tadi direndam dalam air panas. Setelah dikupas dimasukkan lagi ke dalam air, untuk dicuci sekali lagi sampai bersih. Kemudian "jahe" yang sudah bersih tadi direndam air lagi selama satu malam. Kadang-kadang dalam bak-bak perendam ini juga dibubuhkan air jeruk nipis, supaya warna "jahe" itu tetap muda. Sesudah itu semuanya dikeringkan diatas tikar disinar matahari sehari penuh, kalau sudah sore dimasukkan ke gudang kering.
Setelah dikeringkan begini selama 7 hari, biasanya "jahe" sudah cukup kering. Dan beratnya kira-kira tinggal 70% saja dari berat semula. Namun kadar sari "jahe"nya masih ada kira-kira 12% dan kualitasnya dipandang bagus, sehingga laku untuk dijual.
"Jahe" yang dianggap berkualitas tinggi memang "jahe-jahe" besar dan bersih, tapi tidak kering, bagian dalamnya tidak ada bagian-bagian yang patah dan tidak keriput.
"Jahe" termasuk dalam tanaman obat berkhasiat sekaligus bumbu penyedap masakan. "Jahe" juga diketahui memiliki kandungan anti nyeri alamiah sehingga cukup banyak orang yang menggunakan minyak "jahe" sebagai pereda nyeri dan juga bengkak.